Jumat, 14 Januari 2011

Negeri Kelabu

Disebuah Negara yang jauh sekali ada negeri yang disebut negeri kelabu, negeri yang tertutup kabut dan tidak terlihat dari dunia luar.

Mengapa dinamakan negeri kelabu, karena selain tertutup kabut negeri ini punya penduduk yang berkulit kelabu. Ternyata selain kulit mereka yang kelabu system pemerintahan dan norma-norma yang ada pada masyarakatnya juga kelabu alias tidak jelas. Tidak jelas apa yang benar dan apa yang salah, tidak jelas mana yang mahal mana yang murah, karena pernah sekali waktu negeri tersebut menjual cabai lebih mahal daripada daging, aneh bukan?. Penduduk mereka cukup banyak, dan kehidupan berjalan wajar, paling tidak menurut mereka. Di negeri kelabu ini kejahatan bisa jadi benar jika kalian pandai memutar balikkan kebenaran, dan masyarakat mereka menerima saja. Para masyarakatnya hanya manggut-manggut manut kepada pemimpin mereka yang setiap sebulan sekai memberikan pidato dari balkon istana tempat dia menikmati kekayaan haramnya.

Negeri kelabu juga mempunyai apa yang disebut dengan media massa, seperti Koran dan televisi. Isi dari media mereka didominasi oleh pemberitaan pemberitaan miring dan kabar yang belum pasti kebenarannya. Masyarakat negeri ini menikmatinya seolah itu bagian dari hiburan mereka. Mereka senang ketika aib sesamanya diumbar, mereka senang ketika orang lain terpuruk, dan mereka juga sering mencari kejelekan sesama mereka untuk diceritakan kepada yang lain.

Suatu hari yang berkabut seperti hari-hari lainnya negeri kelabu gempar, karena ada anak bayi berkulit cerah ditemukan di hutan mereka. Tentunya kabar tersebut tersebar cepat, hanya butuh beberapa jam saja sampai seluruh negeri tahu bahwa ada manusia aneh dinegeri mereka. Media juga ikut memberitakannya dan dapat dipastikan isi Koran dan televisi didominasi pemberitaan tersebut selama seminggu dari mulai pagi hingga akhir acara televisi dapat dipastikan pemeberitaan di Koran dan televisi mereka hanya menceritakan kegiatan bayi tersebut, siapa yang mengasuh, apa kegiatannya, dan mungkin mereka menanyakan “Kapan anda menikah?”.

Bayi terebut akhirnya diasuh oleh sepasang suami istri yang pertama kali menemukan mereka, ternyata pasangan ini adalah pasangan yang dikucilkan di negeri kelabu karena mereka jarang sekali ikut bergunjing, jarang ikut menyalahkan orang lain, dan kegiatan mereka hanya bercocok tanam, karena menurut suami istri ini bercocok tanam adalah pekerjaan yang paling jelas, kalau tidak ada yang mau beli ya dimakan sendiri. Hampir dapat dipastikan tempat tinggal suami istri tersebut akan ramai dikunjungi warga negeri yang penasaran dengan bayi tersebut bahkan ada yang percaya bayi tersebut adalah keturunan Tuhan, sehingga tak jarang mereka meminta air bekas mandi sang bayi karena mereka anggap dapat membawa berkah untuk hidup mereka.

Setelah beberapa minggu akhirnya kehebohan dirumah pasangan suami istri yang tadinya sepi mulai berkurang sampai akhirnya kembai sepi karena berita kehebohan tentang bayi tersebut digantikan oleh berita- berita lainnya yang lebih heboh seperti kasus mafia pajak, dan kasus kasus yang tak kalah heboh setelahnya. Setelah rumahnya sepi pasangan suami istri itu memutuskan untuk pindah ke daerah yang belum terjamah oleh warga negeri kelabu agar mereka dapat membesarkan si bayi cerah yang mereka beri nama Surya sesuai dengan warna kulitnya yang kuning cerah bagaikan sinar surya yang belum pernah menyinari negeri mereka tanpa terganggu oleh kebiasaan-kebiasaan jelek masyarakat negeri kelabu tersebut.

Dua puluh lima tahun kemudian Surya meminta izin kepada orang tuanya untuk berkelana, dia ingin tahu tentang negeri tempatnya tinggal, dan ia ingin mencari tahu kenapa dia berbeda. Setelah perdebatan panjang dan sengit antara surya dan orang tuanya, akhirnya orang tua surya mengizinkan anaknya berkelana dan hanya berpesan “jangan engkau terkejut nak, diluar sana kejam”, surya pun pamit.

Surya mulai berjalan setapak demi setapak mengelilingi negeri kelabu, diperjalanan surya bertemu dengan seseorang yang rupanya terluka karena tertusuk duri tanaman beracun. Berbekal ilmu pengobatan yang sedikit ia pelajari dari ayahnya dia berhasil menolong orang tersebut dan melanjutkan perjalanan setelah ia menyebutkan namanya kepada orang tersebut..

Sampai di tengah kota Surya heran,

“mengapa orang-orang disini tahu namaku, aku kan tidak mengenal mereka bahkan belum sekalipun melihat mereka seumur hidupku” pikir Surya.

Setelah Surya tinggal dan menetap dikota ia jadi paham bagaimana masyarakat kota berfikir dan bertingkah laku yang ternyata amat sangat berbeda dari apa yang pernah diajarkan orang tuanya. Hampir semua yang diajarkan orang tuanya sangat berlawanan dengan apa yang didapatnya dikota, dan dia membulatkan tekadnya agar dapat merubah negeri kelabu yang abu-abu menjadi negeri yang terang benderang dengan segala sistemnya yang berjalan dengan benar.

Langkah menuju perubahan yang dilakukan Surya adalah mencoba masuk kedalam system pemerintahan negeri tersebut, karena kejujurannya ia sering dianggap sebagai batu penghalang bagi atasanya dan ia heran mengapa hal tersebut terjadi “jujur kok salah” begitu pikirnya, hampir semua orang yang terlibat dalam pemerintahan negeri kelabu tersebut tidak sepaham dengan Surya kecuali karyawan-karyawan kecil yang tidak bisa merubah apapun dan mereka menganggap “ya sudahlah mas Surya mau diapain lagi, saya yang penting bisa makan”, begitu kata mereka.

Sulit bagi Surya untuk melakukan perubahan, karena kebobrokan mental yang sudah mengakar dan turun temurun di Negeri Kelabu maka perubahan amat sangat sulit untuk dilakukan. Para pejabat tertawa keras dan bawahan hanya manut dan manggut manggut saja daripada mereka tidak makan.

Bertahun-tahun sudah dia mencoba dia hampir putus asa dan berpikir,

“aku harus bisa berpidato di balkon para bedebah itu dan aku harus membuat mereka sadar bahwa mereka telah menjalani hidup yang salah dan tidak wajar menurut dunia nalar” begitu pikir Surya.

“Aku harus menjalankan rencana ini bagaimanapun caranya”tekad Surya menguat.

Surya mulai menyusun rencananya untuk berpidato di balkon para bedebah itu, dia mulai dengan mencuri denah istana para bedebah dan mempelajari denah tersebut sehingga dia tau segala sesuatu tentang istana tersebut, untuk informasi tentang istana tersebut tidaklah sulit didapat karena masyarakatnya yang suka bergunjing, Surya dapat bertanya pada siapa saja walaupun informasi yang didapatnya bias, Surya menyaring informasi tersebut dengan nalarnya.

Hari dimana pidato sang pemimpin akan tiba, Surya mulai menjalankan rencananya menyusup ke istana para bedebah itu dan menyabotase sang pemimpin. Sempat mendapatkan perlawanan dari para pengawal istana, tapi Surya dengan tekadnya yang kuat berhasil mengalahkannya dan sekarang sang pemimpin sudah terikat di singgasananya.

Ketika tiba waktunya sang pemimpin keluar untuk berpidato, Surya keluar ke balkon istana untuk memberikan pidatonya. Masyarakat sempat heran dan bisik-bisik pun mulai terdengar. Surya memulai pidatonya, ia sempat merasa bangga karena masyarakat tampak antusias dan terbakar mendengar pidatonya sampai suara tembakan nyarin terdengar dan tepat bersarang di jantung Surya pertanda bahwa pidatonya harus berakhir. Di sisa waktunya ia sempat mendengar tawa para bedebah dan celetukkan warga yang menganggap dirinya bodoh.

“Sok banget sih, anak baru kemarin sore aja sudah mau buat perubahan”

“Siapa suruh kesana, toh kamipun tak akan ikut” begitu kata mereka dan Surya menutup matanya dengan kecewa.

Kabar meninggalnya Surya tentu membuat orang tua asuh Surya sedih, namun dia bangga karena anaknya telah mengamalkan apa yang telah mereka terapkan.

“Sekarang Sang Surya telah tenggelam bu, tapi aku bangga padanya, dia telah mengamalkan apa yang kita ajarkan” kata ayah asuh Surya kepada ibunya.

“Ia bener pak, yang salah bukan anak kita, tapi mereka” sang ibu menjawab.

Negeri kelabu tetap kelabu karena kebobrokan fondasi mental mereka yang tidak kuat menopang sinar sang surya, kabut kebohongannya terlalu tebal untuk ditembus dan mudah mudahan aka nada yang menggantikan anak kami kelak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar